Senin, 26 April 2010

WAWANCARA IMAJINER HALIM HD DENGAN SUYATNA ANIRUN

pada bulan oktober 2009 yang akan datang, STB (Studiklub Teater Bandung) merayakan 50 tahun hari jadinya. untuk itu STB ingin menerbitkan buku, dan saya diminta sebagai salah satu pengisi buku itu. saya tuliskan wawancara imajiner saya dengan pak SUYATNA ANIRUN (salah satu pendiri dan sutradara STB). pengiriman melalui milis ini, dengan pertimbangan karena keterbatasan penerbitan buku itu. semoga wawancara ini bisa dinikmati. dan maaf kalau mengganggu. salam: HHD.

LALU BATU, LALU ANGIN, LALU WAKTU, DEBU


Kota tak lagi bisa membuat saya untuk sesaat jenak dan menikmati semilir angin di antara cuaca terik dan gemuruh pengendara otomotif seperti dikejar kebutuhan hidup, yang entah apa sesungguhnya mereka bisa merasa puas dengan apa yang didapatnya nanti. Saya kira, sebaiknya meminggirkan diri di suatu pojokan sambil menanti waktu yang tepat untuk bertemu dengan seseorang. Warung kopi dengan beberapa jenis gorengan mungkin baik untuk senja yang akan menutup hari ini. Dan di seberang sana, nampak beberapa gerobak rokok dan becak saling berhimnpit berebut ruang mengais rejeki. Masing-masing memahami posisi dan arah: berbagi untuk sejengkal perut yang akan diisi dan beberapa kepala menunggu di rumah yang sumpek dan dipenuhi oleh sejenis hiburan dan siaran berita teve yang tak pernah tahu sebenarnya apa kebutuhan warga, kecuali sejumlah impian yang disodorkan dan guncangan serta jompakan hasrat yang tak pernah tuntas.
Kota yang pernah dijuluki dengan sebutan Parijs van Java pada lima enam dekade yang lampau yang dikenal dengan mojang yang suaranya mendayu-dayu dan jenis makanan yang sedap serta gaya hidup yang pernah menjadi cap bagi sebuah republik yang sedang menggeliat, mencari jalan memoderenkan rupa dirinya. Dan kini, kota yang dulu dengan pepohonan rindang, asri dan arsitektur sebagai penanda jaman bagi sebuah bangsa, kini cuma jadi sekedar ingatan yang lebih kerap lenyap ditindih oleh kesibukan dan ketidakpedulian pada lintasan waktu, sejarah. Diantara itu sesekali seperti iseng dan kesadaran kepada waktu, mungkin masih ada seoerang-dua mengais berita yang terhimpit oleh iklan, adakah dalam minggu ini sebuah pertunjukan, yang mungkin bisa melepaskan penat dan beban kehidupan dan rasa bosan kepada sinetron yang kian memuakan serta kegaduhan politik yang membuat hidup jadi tambah tak tentu arah.
Senja dengan warna lembayung, sementara kesibukan belum juga surut. Dan batagor serta pisang goreng yang disajikan dipiring sudah berkurang, kopi kental tinggal setengah dan menyisakan rasa hangat di sudut bibir. Pikiran saya melayang kepada suatu pertemuan yang entah kapan, yang rasanya berulang kali terulang dan kembali terjadi pada suatu rangkaian peristiwa kecil dalam obrolan dengan seseorang yang pernah membawa saya ke dalam suatu angan-angan tentang ruang dan sosok: sebuah panggung dan saya menjadi aktor yang memerankan orator yang sedang membacakan pernyataan tentang cinta dan kehidupan, konflik dan pertemuan akrab, serta penantian dan rasa cemas, ditimpali dengan bisikan yang tak pernah lindap lenyap dari pendengaran sepanjang perjalanan selama ini. Panggung itu selalu mengajak saya ke dalam pejelajahan tentang hubungan manusia dengan situasinya yang kompleks dan rumit; yang selalu saya nantikan kabarnya dalam lintasan perjalanan saya keberbagai kota .
“Sudah lama menunggu”, seseorang menyapa dengan nada tanya kepada saya dari arah belakang. Terasa suara itu saya kenal, akrab, seperti saya mengenalnya dengan baik, sapaan ramah yang sering saya dengar ketika saya mendatangi kantor redaksi PR, menyerahkan beberapa tulisan, dan memohon honor lebih dulu agar bisa tinggal di Bandung barang seminggu-dua. Saya menoleh, dan wajah ramah itu tersenyum sambil menyodorkan tangan. Kami bersalaman. Dia duduk sebentar, lalu mengajak saya ke suatu tempat yang menurutnya lebih enak untuk kongko ketimbang di warung yang sumpek dan panas. Selemparan batu dari warung tempat saya ngopi, di sebuah gedung, Rumentang Siang, yang pernah menjadi saksi sejarah bagi dunia pertunjukan di kota itu, dan kini himpitan becak, mobil, motor, kios rokok dan para penjual eceran hilir mudik di depannya. Tak banyak yang berubah, kecuali sedikit kumuh dan mungkin dalam setahun-dua entah apa yang akan terjadi dengan gedung yang dianggap sebagai bagian dari kehidupan sosok yang sejak sore saya tunggu itu. Memasuki halaman dan ruang samping kiri gedung, nampak terasa sekali dia akrab, juga penuh permakluman dengan kondisis gedung. Atau tepatnya pasrah dengan kondisi yang ada. Dan di suatu ruangan yang nampak lengang, beberapa foto dan poster serta sebuah kalender dan beberapa kursi. Dia menyilakan saya duduk, lalu keluar memesan kopi dan penganan.

HD: bagaimana kabar Anda? Kesibukan apa yang Anda geluti sekarang?

SA: baik, berusaha untuk menikmati arah yang tak saya tentukan; dulu saya mesti berkeringat kini hanya dengan cara santai bersahaja bagaimana saya menyaksikan berbagai peristiwa sebagaimana jalan kehidupan yang diatur oleh masing-masing orang; tapi saya hanya bisa menyaksikan. Yaaa, hanya menyaksikannya dari kejauhan, tapi juga rasanya dekat.

HD: Tidak bosan?

SA: yaaa, mau apalagi; inilah sekarang yang diberikan kepada saya; dulu saya atau siapa saja ikut menentukan arah diri mau ke mana; kini saya hanya menerima arah yang ditentukan, dan semuanya telah diatur; dan saya tidak ingin terlalu banyak bertanya; sekarang saya menikmati; yaaa, menikmatinya, seperti selembar daun diantara angin.

HD: bagaimana kesan Anda sekarang tentang pertunjukan, dunia yang berpuluh tahun, hampir sepanjang hidup Anda pertaruhkan?

SA: sulit bagi saya untuk memberikan penilaian yang terjadi sekarang; saya khawatir membuat judgement; sementara saya berada dalam posisi berada di luar ruang yang anda tanyakan; juga masalahnya saya bukan orang yang suka membuat konklusi; saya lebih senang dengan proses, kerja; saya bukan analis, bukan pengamat; saya pelaku; sebagai pelaku, tentu saja saya lebih senang dengan kerja, kerja dan kerja; ada orang lain yang bertugas memberikan penilaian atas semua kerja yang saya atau kita lakukan.

HD: atau begini, mungkin anda bisa memberikan perbandingan tentang proses, tentang kerja yang pernah anda lakukan dengan apa yang terjadi kini?

SA: sama saja; soalnya perbandingan, komparasi itu itu justeru bisa membuat saya berada pada posisi pembenaran diri sendiri; narsistik; dan anda tahu, teater bukan itu masalahnya, dan mestilah menghindari kondisi seperti itu; proses, kerja teater adalah membongkar kemungkinan dan keyakinan; mempertanyakan dan menggugat apa yang kini kita percayai dan berusaha menguak ruang kemungkinan- kemungkinan yang pernah diyakini oleh orang lain; maka dia, dirinya, teater, perlu mempertanyakan tanpa memberikan suatu judgement yang bisa memperangkap kita ke dalam sikap narsistik; pada teaterlah siapa saja memiliki kemungkinan untuk hadir dan lenyap dan berganti kepada suatu posisi baru yang memungkinkan dirinya menjadi, how to be dalam proses penjadian; dalam teaterlah penjadian hal yang utama; teater senantiasa kondisional, situasional, dan pada setiap ruang yang diciptakannya teater menciptakan penjadian, menciptakan sejenis seperti sesuatu yang dianggap bentangan kemungkinan; yang sesungguhnya bukan kebaruan itu yang terpenting, tapi pertemuan yang otentik; suatu pertemuan dengan eksistensialitas yang intim yang sekaligus sosialitas yang memang dikandungnya; dalam sosialitas dan eksistensialitas itu pulalah kita dan siapa saja memasuki ketegangan, kecemasan antara kehilangan dirinya dengan pertemuan dengan dirinya yang lain melalui peristiwa.

HD: jadi apa artinya kebaruan dalam dunia kesenian khususnya teater?

SA: itu bukan urusan pekerja teater; itu urusan pengamat; setiap kerja teater yang dilandasi dengan keyakinan kepada proses kerjanya, tentu saja akan menciptakan kebaruan, yang secara personal sebagai usaha diri untuk memasuki peristiwa baru; teater bukan video atau film yang dimana saja bisa sama ketika hal itu diputar dan disaksikan; namun teater senantiasa memasuki ruang yang baru; bahkan pada ruang yang dianggap sama pada hari yang lain, juga akan menciptakan kebaruan; tugas dan kewajiban teater menciptakan ruang pertemuan yang otentik antara dirinya dengan siapa saja, antara pelaku dengan seseorang yang katakanlah penonton.

HD: jadi, jika ada orang yang menyatakan bahwa teaternya baru, melakukan pembaharuan, apa artinya itu?

SA: mungkin dia bicara tentang penemuan; menyodorkan hal-hal yang belum pernah dilakukan, dikerjakan oleh orang lain dalam segi tehnik atau tafsir atau hal-hal lainnya; namun terpenting adalah bahwa teater menciptakan otentisitas dan keunikan manusia; tapi sekali lagi, perdebatan soal kebaruan sesungguhnya berada di luar wilayah orang teater; wilayah itu berada dalam lingkup mereka yang menganggap sebagai kritisi, analis atau pengamat; dan itulah tugas mereka, menafsirkannya dengan cara penelusuran yang didasarkan kepada komparasi dari berbagai peristiwa yang pernah ada; namun saya lebih senang kongko soal proses, masalah bagaimana kerja dilaksanakan; saya katakan dilaksanakan, karena seluruh proses kerja itu sendiri sesungguhnya masalah kecemasan antara sesuatu yang kita harapkan dengan realitas atau kenyataan yang kita miliki; dan hal ini membuat saya atau siapa saya mengalami ketegangan dan juga masalah inilah yang membuat diri saya memiliki harapan dan keputusan menjalani kerja itu.

HD: mangga, mangga, terserah Anda; saya hanya ingin berusaha menyambung obrolan kita ini; karena saya sering kali bertemu dan membaca tentang pernyataan orang teater soal kebaruan; tapi yang lebih penting lagi bagaimana saya bisa dan mendengarkan pengalaman Anda.

SA: tugas dan kewajiban pekerja teater sesungguhnya bentangan antara konservasi, melestarikan peristiwa yang pernah ada dan diri dalam ruang lampau dan menguak kemungkinan ruang-ruang yang yang datang bagi pertemuan dirinya dengan orang lain; soal baru atau lama bukan masalah; bukankah teater yang dianggap lama juga tetap selalu digemari dan lebih dari itu karena teater memang merentangkan batas ambang imajinasi bertemu dengan realitas yang otentik dari setiap orang; dan sesungguhnya itulah tugas kesenian; kita tak mungkin bisa melakukan sesuatu tanpa kita memahami yang lampau; diri kita lahir dan berada, eksis, karena berada dalam ruang dan waktu; kita tak datang seketika dari langit; bahkan keyakinan-keyakinan yang dianggap datang dari sana itu sangat membutuhkan penelusuran, pelacakan ke dalam akar masalahnya.

HD: Anda menyinggung, atau tepatnya menyatakan tentang suatu keyakinan dalam jalan berteater; bagaimana hal itu diwujudkan?

SA: anda tahu air laut itu asin; dan bagaimana anda bisa mengetahuinya jika anda tidak mencobanya, dan bagaimana anda bisa mencobanya jika anda tidak memasuki dunia rasa asin itu; keyakinan adalah tindakan, how to act; dan ketika kita merasa yakin kepada sesuatu sesungguhnya bukan bagaimana kita menerimanya; tapi bagaimana kita melacak dan mempertanyakannya, menggugatnya, dan merasakan dan melakukannya dengan sepenuh diri; jika tidak maka teater hanya fiksi dari kaum pelamun; tak ada bau dan rasa keringat; dan itulah kenapa keringat asin, karena dia ada dengan dan di dalam laut dalam diri kita; gelora dan gemuruh serta keheningan dari kedalaman yang kita wujudkan dalam pertemuan dan penjadian itu.

HD: bagaimana dulu Anda melakukan hal itu?

SA: memulai dengan hal-hal yang kecil, nampaknya begitu, tapi sesungguhnya itulah proses dan kerja menciptakan fondasi bagi langkah berikutnya; dengan cara melatih pernapasan, suara, vokal, otot dari wajah sampai dengan perut sampai dengan ujung jari jemari kita; melatih sensitifitas tubuh kepada ruang-ruang yang berlainan, dan semuanya itu didasarkan kepada kesadaran tubuh; modal utama aktor adalah kesadaran kepada tubuh yang fana dan sekaligus juga memiliki kemungkinan yang tak terhingga yang bisa mengantarkan seseorang kepada suatu dunia, ruang lain dan menyatukan seluruh aliran waktu, sejarah, biografi sampai dengan berbagai peristiwa dari yang personal sampai sosial; melacak teks dengan komparasi dari teks lakon dengan teks kajian seperti sejarah, sosiologi, antropologi, politik, psikologi dsbnya; teater mengajak pekerjanya untuk membuka pemikirannya kepada disiplin ilmu apapun juga, kepada penemuan-penemuan ilmu pengetahuan; di dalam teaterlah pengujian berbagai disiplin itu bisa diterapkan demi kebutuhan penciptaan manusia dan peristiwanya; dalam teater pula anda mesti memahami dan melacak ruang senirupa, arsitektur, ruang kota, dan ruang diri yang penuh dengan misteri.

HD: dalam kaitannya dengan tubuh itu, bagaimana hubungan tubuh dengan lakon; setiap lakon memiliki sejarah, biografi, demikian juga dengan tubuh yang lampau dan tubuh yang akan melakonkannya yang tidak netral, lalu di mana titik temunya?

SA: disitulah teater eksis, teater menorehkan kemungkinan pertemuan yang di dasarkan kepada diri-tubuhnya; kepada apa yang dimilikinya dan menciptakan tafsiran serta memasuki melalui pelacakan ke dalam ruang lain yang dimiliki oleh teks atau peristiwa yang ter/di-bentuk dahulu; teater, pelakunya, adalah seorang pelacak namun sekaligus juga penafsir; dengan melacak dia mustilah menemukan, mendekati penemuan dan pertemuan dengan ruang yang dahulu pernah diciptakan, dan dengan pertemuannya itu dia menafsirkan berdasarkan kebutuhan; dan kebutuhan itu bukan sesuatu yang pragmatis tapi yang eksistensial dan sosial dalam konteks kehidupan kekiniannya; batas dirinyalah menjadi titik tumpu dari berbagai pertemuan; dan teks bukan hanya huruf-huruf mati atau kata benda tapi kata kerja yang membawa bobot dan bibit kemungkinan yang berkaitan dengan kondisi kini, dengan konteks kini terhadap masa yang lalu, dan bagaimana menjembataninya dengan yang akan datang; teater pada dasarnya, pada satu sisi, adalah rentangan jembatan imajinasi yang menghubungkan ruang yang lalu, kini dan masa depan.

HD: berarti teater bisa memberikan isyarat, tanda-tanda jaman kepada siapapun, kepada kekuasaan, sistem yang sedang berlaku misalnya ada sesuatu?

SA: tugas dan kewajiban teater adalah menyapa; dan di dalam menyapa, senantiasa teater melantunkan isyarat; anda tentunya ingat dalam bahasa yang paling akrab dengan dunia kita, yakni sandiwara; suatu sandi yang diwartakan kepada siapa saja; sebagai ruang dan peristiwa sandi, teater tak merumuskan suatu jalan seperti rambu-rambu lalulintas; sandi yang diwartakannya berupa sapaan melalui percikan permenungan dalam ruang dan batas ambang antara realitas dengan imajinasi; dan di sanalah teater dan pelakunya bertemu namun bukan dalam kegemuruhan tapi di dalam keheningan reflektif yang penuh makna, penuh tafsir; teater dengan demikian membebaskan kepada siapa saja untuk memilih; memilih atas kehadiran dirinya, menentukan jalan untuk nasib yang ditentukan oleh kapasitas kehadirannya; sepenuh-penuhnyalah dirinya berada di dalam genggamannya; keindahan teater terletak pada kapasitas dirinya atas seluruh nasib dan takdirnya.

Tubuhnya disandarkannya sambil menarik napas panjang, seperti dia ingin merasakan kembali apa yang dikatakannya yang dahulu dikerjakannya dari waktu ke waktu dengan ketekunan dan kerincian yang membuat orang terpukau oleh sentuhan dan olahan dari hasil kerja yang diyakininya sebagai jalan, atau tepatnya dirinya menentukan takdirnya dalam berbagai peristiwa yang diciptakannya di atas panggung.
Waktu melintas, tak terasa lagi malam kian larut. Nampak sorot matanya tertuju pada jendela kaca yang buram. Dari kejauhan terdengar sesekali derum motor dan klakson mobil, sesekali lamat-lamat gesekan langkah di halaman gedung. Udara kota menelusup lewat kisi-kisi di bawa angin dan menyisakan ingatan tentang gedung yang menjadi saksi bisu: sesuatu yang pernah terjadi yang melibatkan dirinya, yang mungkin akan pupus atau terentang dalam rangkaian kalimat obrolan nostalgik di warung atau di kamar kost-kostan. Sementara seluruh rangkaian kerja yang pernah ditekuninya mungkin seperti angin malam yang kian dingin.
Keinginan saya untuk melanjutkan kongko tertunda oleh elahan napasnya, dan sambil sesekali melirik ke arah pintu yang tertutup di seberang tempat kami kongko. Seperti ada dorongan yang membuat dirinya untuk memasuki ruangan itu namun dia menahan diri; menyadari benar posisinya kini bahwa ruang yang berada di seberang tempatnya duduk kini bukanlah wilayah di mana dia semestinya ada dalam pemenuhan keinginan dirinya. Kehendak yang sia-sia: dirinya kini tak lagi menentukan atas nasib dan takdir yang dulu menjadi prinsip, pegangan di dalam meretas jalan dan menguak ruang-ruang kehidupan melalui dunia panggung.
Dia melirik kepada saya, kami saling menatap. Mengajak saya keluar. Saya mengangguk. Lalu kami berjalan diantara sisa warung yang masih buka dan satu-dua motor dan taksi melintas bergegas. Kami berjalan tanpa pembicaraan. Pikiran saya melayang dan saling silang sengkarut. Saya berusaha untuk memahami posisi dan kondisinya. Tapi, rasanya hanya diam yang terbaik. Sementara itu dia terus melangkah, berjalan di sebelah saya, sambil sesekali melirik kearah di sekitarnya, seperti mengingat sesuatu. Pada kesekian tikungan dan persimpangan dia menghentikan langkah lalu menyodorkan tangan. Kami bersalaman.
Lalu lindap, senyap. Hanya dingin. Batu-batu di jalanan membisu. Lalu angin. Lalu waktu: Debu.
o0o-

Halim HD. – Networker Kebudayaan.
Bandung-Solo, Agt-Sept 2009

Tidak ada komentar: