Senin, 26 April 2010

KOLABORASI SENI TAK SEBATAS KULIT

Komposisi dan improvisasi seperti layaknya mata uang logam dengan kedua sisinya. Dua pribadi yang berbeda sifat, seolah bertolak belakang, namun saling melengkapi dan memiliki tujuan akhir yang sama. Musik jazz telah menyandingkan keduanya dalam satu pelaminan indah. Mungkin anda dapat mentransfer energi tersebut dalam seni rupa (atau justru anda telah melakukannya). Siapa tahu akan muncul lukisan, patung, atau grafis dengan gaya jazz. Itulah kolaborasi yang sesungguhnya.

Tulisan ini merupakan kajian tentang kolaborasi proses penciptaan karya seni. Seperti yang terjadi pada musik jazz yang mengkolaborasikan antara komposisi dan improvisasi. Dua proses penciptaan karya seni yang masing-masing memiliki karakter khas. Dimana kedua bahasa penciptaan tersebut sering digunakan secara universal dalam proses penciptaan karya seni. Termasuk seni rupa. Satu alasan mengapa artikel yang sedikit bersifat musikologis ini dibahas dalam buletin seni rupa adalah karena dialog antar disiplin seni mesti dilanjutkan pada tataran yang lebih krusial. Agar kolaborasi antar media seni tidak hanya berhenti pada persinggungan elemen-elemen terluar.

Ada baiknya jika kolaborasi ditingkatkan pada elemen-elemen yang lebih substansial. Yaitu kolaborasi pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dalam seni musik, fenomena yang pernah terjadi adalah persinggungan antara budaya tradisional jawa (karawitan) dengan budaya pop barat (band) yang disilangkan menjadi sebuah species baru bernama “campursari”. Sayangnya persilangan tersebut (kebanyakan) hanya pada instrumentasinya. Dimana instrumen band (gitar, keyboard, bass, drum) digunakan intuk mengiringi “lagu pop yang berbahasa jawa” (sering kali berirama dangdut). Dan instrumen tradisional jawa (bonang, saron, kendang dan sebagainya) hanya digunakan sebagai hiasan seperlunya saja. Kolaborasi tidak menyentuh pada ranah pencampuran tangga nada pelog-slendro dengan tangga nada mayor-minor, atau lebih jauh lagi tangga nada blues misalnya. Bisa juga mengkolaborasikan estetika ritme karawitan dengan beat drum rock n’ rool misalnya. Atau masih banyak lagi yang dapat dieksplorasi dari nilai khas masing-masing budaya.

Bagaimana dengan kolaborasi antara musik dan seni rupa? Tentu ini lebih rumit karena medianya sangat jauh berbeda. Seperti yang sering terjadi pada kolaborasi musik dengan lukis yang hanya menampilkan seorang pelukis yang tengah melukis di depan sebuah konser musik. Karena media yang telalu berbeda, banyak yang terjebak pada kolaborasi sebatas kulit. Sehingga yang terjadi hanya sebatas dua karya seni yang berbeda, yang disajikan dalam waktu yang bersamaan, namun substansi penciptaannya masih berjalan sendiri-sendiri.

Kolaborasi unsur-unsur penciptaan karya seni pernah dihadirkan dalam musik jazz. Dimana dalam musik jazz proses penciptaan merupakan kolaborasi antara komposisi dengan improvisasi. Dalam khasanah seni musik, istilah “komposisi” digunakan untuk menyebutkan suatu karya musik yang diciptakan secara teratur dan terencana. Karya-karya “musik seni” barat dari zaman klasik-romantic-modern, kebanyakan merupakan karya yang disusun secara terencana. Setiap nada dari masing-masing instrumen diperhitungkan, disusun, ditulis oleh komposer, baru kemudian dibaca oleh pemain untuk diperdengarkan pada apresian.

Sementara gitaris blues secara spontan memainkan serangkaian nada di antara frase-frase vokalnya, dan inilah yang kemudian disebut sebagai “improvisasi”. Dalam musik keroncong juga terjadi hal tersebut. Dimana setiap instrumen dimainkan secara improvisasi, hanya mengikuti pergerakan akord yang telah ditentukan. Pada intinya improvisasi adalah suatu karya diciptakan secara spontan. Steve Lacy mengatakan “Perbedaan antara komposisi dan improvisasi adalah bahwa dalam komposisi, anda memiliki waktu sebanyak apapun anda inginkan untuk menyusun apa yang akan anda ungkapkan dalam waktu lima belas detik. Sementara dalam improvisasi anda hanya memiliki waktu lima belas detik itu sendiri.”. Meski komentar ini tidak sepenuhnya benar, namun Steve Lacy cukup memberi gambaran sementara untuk menunjukkan sedikit persamaan dan sedikit perbedaan antara komposisi serta improvisasi.

Dalam perspektif lain, komposisi dan improvisasi sendiri bukanlah dua hal yang berhadapan dan saling menyerang satu sama lain. Keduanya merupakan elemen penciptaan karya yang saling melengkapi. Suatu komposisi yang bagus didalamnya terkandung nilai-nilai kejutan yang berasal dari ide spontan yang bersifat improfisatif, sementar improvisasi yang bagus adalah suatu spontanitas yang terkomposisi. Meski demikian komposisi dan improvisasi merupakan dua proses penciptaan yang masing masing hasil akhirnya memiliki nilai unik yang berbeda. Dimana dalam proses komposisi, suatu karya akan tercipta secara rapi dan terstruktur. Sementara dalam proses improvisasi, suatu karya akan lebih “liar” namun kadang menghadirkan kejutan yang tak pernah terfikirkan, yang muncul dari intuisi sang kreator. Dan jazz telah menyandingkan keduanya dalam suatu pelaminan yang indah. Di dalam musik jazz (terutama gaya swing dengan formasi big band nya) suatu karya disusun secara terencana dan ditulis. Namun pada tempat tertentu pemain diberi kesempatan untuk menunjukkan kualitas musikalnya dengan berimprovisasi. Sehingga kolaborasi terjadi pada proses penciptaannya. Karena jika kita tengok sejarah, musik jazz sendiri merupakan kolaborasi antara musik kaum kulit hitam amerika dengan kaum kulit putihnya yang berbanding lurus dengan improvisasi-komposisi.

Mengambil pelajaran dari proses tersebut, ternyata bahwa kolaborasi masih memiliki area yang sangat luas. Yaitu mengkolaborasikan sesuatu pada esensinya. Di dalam dunia seni yaitu pada proses penciptaannya. Kolaborasi akan menjadi lebih berarti ketika dialog penciptaan antar media seni dikomunikasikan secara intens, saling mempengaruhi dan saling merespon tanpa ada salah satu yang dimarginalkan.

Kolaborasi juga terjadi dalam karya multi media konvensional seperti wayang kulit (wakil dari multi media budaya tradisional jawa), teater (wakil dari multi media tradisi seni murni pemeranan), sampai film atau sinema (wakil dari seni multi media berteknologi tinggi), namun rata-rata menempatkan seni pertunjukan sebagai tokoh utamanya, seni rupa dan seni musik sebagai pelengkap atau pendukungnya. Ketidak seimbangan porsi tersebut bukanlah sebuah kesalahan, mengingat seni rupa dan seni musik dihadirkan karena dia dibutuhkan semata-mata untuk mendukung alur cerita, bukan sebagai seni mandiri yang memang disatukan konsepnya dengan seni pertunjukan sebagai karya utamanya. Sehingga kolaborasi yang terjadi di dalamnya bukan bagian dari kolaborasi dalam proses penciptaannya.

Kolaborasi yang berimbang akan sulit dicapai tanpa menyatukan proses penciptaannya. Seorang pelukis atau pematung yang berkarya dengan diiringi musik tertentu, kemudian hasil karyanya benar-benar merupakan respon mereka terhadap musik yang didengarnya, merupakan salah satu wujud kolaborasi seni musik dengan seni rupa meski secara “wadag” seni musik tidak muncul sama sekali dalam hasil karyanya tersebut. Tetapi karya tersebut merupakan cerminan musik yang didengar saat karya tersebut diciptakan.

Namun akan lebih bermakna lagi ketika seniman mampu mengambil makna substansial dari media seni lain yang hendak dikolaborasikannya. Seperti halnya jazz yang menyatukan proses komposisi dengan proses improvisasi. Menyatukan nilai-nilai penciptaan musik jazz ke dalam seni rupa misalnya, dapat dilakukan dengan mengambil nilai-nilai komposisi serta improvisasi jazz, kemudian mentransfernya dalam suatu karya seni rupa. Sebaliknya menyatukan jazz dengan seni rupa misalnya, dapat dilakukan dengan mengambil estetika ilmu perspektif dalam seni lukis kemudian ditransfer dalam pengaturan instrumentasi agar terdengar lebih memiliki perspektif ruang dari tiap instrumen yang dibunyikan. Baru kemudian menggelarnya dalam satu ruang dan waktu yang sama. Sehingga apresian akan benar-benar merasakan pertautan energi dari masing-masing media yang dikomunikasikan. Tentu saja untuk membuatnya menjadi nyata tidak semudah menyusun konsepnya!!

Doni Riwayanto. Pendidik, Penulis, dan Pengamat musik

Tidak ada komentar: