Senin, 26 April 2010

FESTIVAL SELAYANG PANDANG

Festival berawal dari semangat Fiesta (bukan merek dagang salah satu karet pengaman lho..) yang pengertian sederhananya kurang lebih ‘bersukaria dalam suasana gembira’. Dalam ritual Fiesta atau yang sekarang dikenal sebagai Festival itu, dimungkinkan siapapun saja yang hadir disana menikmati kegembiraan bersama-sama. Tentunya kepedihan akan sirna dan (maunya) digantikan oleh spirit kebahagiaan. Sebagaimana Festival Dyonisius, yang diyakini oleh sebagian besar penganut Dramaturgi Barat sebagai cikal bakal bagi kelahiran Teater seperti yang kita kenal sekarang, bermula dari penghormatan kepada Dewa Anggur Dyonisius. Sekelompok petani anggur usai panen, mengadakan semacam syukuran dengan sebuah fiesta yang berkembang menjadi Festival Dyonisius. Serupa upacara penghormatan kepada Dewi Sri di ranah Jawa untuk mengekspresikan kebahagiaan serta rasa syukur lantaran hasil bumi yang melimpah dan dijauhkan dari hama tanaman yang menjarah. Biasanya mereka berkumpul dilapangan atau tempat terbuka dengan nyanyi, deklamasi serta iringan musik sederhana. Yang hadir dalam festival itu boleh menikmati anggur sepuas-puasnya. (bisa dibayangkan betapa riuh rendah dan hiruk pikuknya suasana saat itu) Sebuah teater tanpa penonton karena yang hadir bisa dipastikan larut dalam permainan dan menjadi bagian yang menghidupkan fiesta itu.

Dari itu, berkembanglah penyelenggaraan festival dimana-mana. Mulai dari festival siul indah, festival senyum menawan, festival langkah gemulai serta seabreg festival lain dengan format dan gaya serta pernakpernik yang beraneka rupa.
Tak ketinggalan adalah teater. Sebagai sebuah kegiatan yang pada mulanya dimaksudkan sebagai ajang kumpul-kumpul dan senang-senang dalam perkembangannya bergeser menjadi sebentuk kegiatan yang agak lebih serius dengan muatan ilmu pengetahuan didalamnya (kalau nggak tentu tidak bakalan ada lembaga pendidikan teater maupun jurusan teater di sekolah). Festival Teater pun berkembang dari ajang senang-senang menjadi ajang kompetisi untuk memperebutkan gelar terbaik alias juara. Motivasi peserta bukan lagi silaturahmi dalam spirit kebersamaan namun berkembang menjadi obsesi meraih gelar yang disediakan oleh panitya penyelenggara festival.

Jogja yang konon istimewa ini memang meninggalkan banyak catatan peristiwa Festival. Mulai dari Festival Sendratari, Festival Kethoprak, Festival Layang-layang, festival Jajan Pasar serta masih banyak lagi tentu saja. Akan halnya Festival Teater yang pernah ada seperti Festival Teater Remaja, Festival Teater Mahasiswa, Festival Teater Kecamatan serta banyak lagi mungkin yang tercecer dari ingatan dan tak tercatat. Bahkan Taman Budaya yang berada di Yogyakarta pernah menyelenggarakan acara serupa bertajuk TEMPA yang pada awalnya adalah Festival Teater luar ruang (Outdoor Fest), lantaran pada penyelenggaraan festival serupa di Eropa mereka tengah dalam situasi eforia rindu matahari, setelah sekian lama berbalut beku salju di Musim Dingin. Dalam perjalanannya TEMPA berkembang menjadi ajang ‘penempaan’, sebuah upaya pembinaan yang memang patut dan wajib dilaksanakan oleh institusi Negara di bidang kesenian seperti Taman Budaya dan sejenisnya.

Semoga kita semua percaya bahwa panitya penyelenggara festival semacam ini tentu sudah berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi peserta, serta menutup celah masalah yang ditinggalkan oleh acara semacam ini sebelumnya. Kalaupun kelak ada kebocoran disanasini semoga kita bisa menutupnya dengan segala permakluman bahwa ternyata penyelenggara festival itu tetap makhluk yang berjenis manusia yang tentu saja tak lantas jadi nirsalah, alias tanpa cacat.

Sayapun berharap, apa yang tertulis ini bisa menjadi semacam catatan dan tidak harus terjebak untuk sekadar menjadi cacatan apalagi cocotan.
Lantas bagaimana kemudian acara ‘kumpul-kumpul untuk bersenang-senang’ itu dalam perkembangannya menjadi semacam ajang perlombaan untuk menentukan yang terbaik. Sekadar kesalahkaprahan atau ada tujuan lain disebalik kompetisi dengan bungkus festival. Memilih yang terbaik diantara yang hadir dalam pesta tersebut memang bukanlah hal yang mutlak keliru. Namun jika motivasi untuk sekadar meraih penghargaan yang ingin dicapai. Ataupun penyematan gelar tertentu untuk disandangkan, mestinya kita terus terang saja dengan menyebutnya sebagai Kejuaraan Teater atau Lomba Drama, lebih terusterang kan? Untuk tidak mengatakan jujur. Lantaran jujur yang dinyatakan kadang justru mengalami erosi dalam pemaknaannya.

Catur Stanis
0818 0267 3698
http://caturstanis.multiply.com
http://caturstanis.blogspot.com
http://caturstanis.wordpress.com

Tidak ada komentar: