Senin, 26 April 2010

10 CARA MEMPERTAHANKAN GRUP TEATER

Minum, Makan dan bikin Pertunjukaan Baru

10 Hal Grup teater harus lakukan untuk menyalamatkan diri mereka sendiri.

1. Sudah cukup dengan Shakespeare.

Ini adalah penulis terkenal dan hebat di dunia yang Anda panggil ketika merasa takut atau tidak punya ide. Jangan cari nama menggunakan Shakespeare lagi! Dorong diri Anda. Hiduplah! Cari naskah baru, bagus, aneh yang orang tidak pernah kenal. Didik penonton untuk ingin menjadi kaget, tidak passif lagi.

2. Kasih tahu kami (penonton) sesuatu yang kami belum ketahui.

Setiap pertunjukan dalam program Anda harus menjadi premiere (pertama kalinya) – world premiere, American permiere, Indonesian premiere, ya, paling sedikit premiere daerah.
Sutradara-sutradara : Mencari naskah baru yang perlu dikembangkan atau dibesarkan dalam 12 bulan ke depan.
Aktor-aktor : Sama.
Penulis Naskah : Jangan workshop-workshop terus – keluarkan aja ke penonton!
Critikus / wartawan2: Hargai teater yang mengambil rasiko dengan karya baru. Datanglah dan reviewlah!

3. Produksi ramai… Produksi bagus, cepat dan murah (seperti Shakespere, kalau bisa).

Walaupun banyak yang mengkritisi mereka karena terlalu sering pentaskan naskah baru, hal ini sangat vital…. Dan jangan lupa salah satu penulis yang tetap dihargai disini – Shakespeare” – juga menjadi machine teater dan naskah-naskah berubah dalam proses.

4. Dapatkan mereka saat muda…..

Mulai dengan kasih tiket gratis atau murah kepada orang dibawah 30 tahun. Atau jual musim pertunjukan Anda dengan harga murah.. ( Contoh.. Semua pertunjukaan untuk satu tahun untuk Main Teater Bandung atau Teater Cassanova bisa dijual 50 ribu. Tapi ini memang perlu planning ke depannya – Kerensa.) Penulis dari Seattle bilang, “ Bawa penonton dibawah umur 60 dengan cara apa saja. Kalau kau menjadi bangkrut untuk mendapat penonton, ayo lakukan…. Kalau kamu belum bangkrut , itu berarti bunyi kerusakan teatermu cuma belum didengar.”

5. Menawari penjaga anak selama ada pertunjukaan.
( Tapi yang untung Indonesia memang Negara child friendly)……. Pendikan gereja hari Minggu di America adalah pendidikan gerilya yang paling suksess. Ambil ide itu. Biarin orang tua menikmati pertunjukan sambil anak mereka belajar teater sama aktor-aktor. Jadi orang tua tidak bisa pakai alasan tidak bisa keluar karena punya anak, visi dan misi Anda untuk pendidikan sudah jalan, dan anak2 itu akan belajar hal yang penting – teater itu asik, bukan hukuman.

6. Berjuang untuk tempat murah untuk seniman dan ruang teater yang murah untuk seniman dari pemerintah.

( Tapi seniman teater harus juga menghargai tempat pertunjukan dan meninggalkannya dalam keadaan bersih! – sampai sekarang saya belum lihat pemain teater yang hargai tempat dengan sepunuh hati. Jadi Rumentangsiang dan taman budaya selalu kotor ketika masuk.)

7. Bangun Bar / Cafe

Buka Cafe atau apa saja semacamnya. Menggarap pertunjukaan berbentuk pesta dan penonton sebagai tamu. Teater selalu mencoba membangun komunitas dengan perkuliahan, diskusi dan versi-versi yang lain “ Kamu sudah nonton saya untuk dua jam dan sekarang nonton saya lebih lama!” Mau Komunitas? Kasih tamumu tempat duduk, minum dan biarin mereka diskusi sendiri. Semua menang! Mereka dapat minum dan snack, teatermu dapat uang.

8. Malam Pesta HooHa

Anda tahu kan hal-hal lain yang membentuk komunitas? Ya, partisipasi penonton. Dalam satu rangkaian atau musim pertunjukan. Pilih salah satu pertunjukan yang bisa memberi ruang kepada penonton untuk bisa berteriak, berkomentar dan melakukan apa saja seperti menonton pertunjukan tradisional (Wayang, kethoprak, Ludruk dsb). Jual tiket murah, sediakan snack dsb.

9. Bersatu padu

Dalam situasi penurunan minat dan kualitas Teater, Seniman teater mesti terus bersatu saling mendukung dan terus menunjukkan kekuatan.


10. Keluar dari sekolah teater.

Dua atau tiga tahun di sekolah punya harga lebih baik kalau kamu sudah keluar dari insititusi dan dalam dunia nyata lalu bikin teater sendiri. Jurasan Teater dihuni oleh staff yang pernah menjadi sesuatu dalam dunia teater atau bahkan orang yang tidak pernah menjadi apa2 di dunia teater, atau seniman yang bisa disebut-sebut di masa lalu tapi tidak bisa bicara tentang masa sekarang dan apalagi masa depannya..

Diterjemahkan dari
the Stranger (Oct. 9, 2008), the Seattle alternative weekly newspaper led by nationally syndicated Savage Love columnist Dan Savage; www.thestranger. com.

Terjemahan oleh : Karensa Jhonston

Tidak ada komentar: