Rabu, 14 Juli 2010

TANDA-TANDA dan CINTA TEATER KOMA

Oleh M Ahmad Jalidu

Sebuah halaman parkir yang luas telah lengang. Jam 20.02, saat saya memeriksa jam usai melepas helm dan menaruhnya di atas jok motor. Segera saya bergegas ke front desk di depan pintu Gedung Tribakti Magelang. Malam ini, 13 Juli dan malam kemarin Komunitas Teplok yang dipimpin Yefta Tandiyo, mengundang Teater Koma Jakarta untuk mementaskan lakon Tanda Cinta. Saya terlambat 15 menit kata petugas di tempat pelayanan tiket.

Tanda Cinta ini dimainkan oleh dua tokoh penting dalam perkembangan teater Indonesia 30 tahun terakhir. Tak lain adalah pasangan suami istri Nano Riantiarno dan Ratna Majid Riantiarno, juragannya Teater Koma. Setidaknya hal inilah yang mendorong saya memacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi dari Jogja ke Magelang.

Secara umum, saya kagum dan bertepuk tangan dengan ikhlas ketika para penari ilustrasi membungkuk menghadap penonton. Tetapi kesan saya memang tidak begitu istimewa. Barangkali saya memang berharap menonton kemegahan drama musikal yang telah mengibarkan nama Koma. Tetapi tidak saya temukan dalam Tanda Cinta.

Sepasang suami istri dengan adegan rumah dimana pada usia paruh baya seringpula muncul rasa cemburu. Si istri menemukan amplop rahasia di lemari pakaian yang isinya foto-foto gadis kecengan suaminya di masa lalu. Demikian pula suami, menemukan tas berisi foto-foto pria di masa lalu sang istri. Hal ini kemudian menjadi kelucuan yang cukup menyentil ketika masing-masing menanyakan dan memprotes kenapa masih menyimpan barang-barang itu. Dan sayangnya, cukup tidak menarik ketika jawaban keduanya hampir sama, yaitu sudah lama merasa kehilangan barang itu dan sudah melupakannya. Tetapi hal positifnya adalah persoalan ini tidak memancing pertengkaran sebagaimana seringkali ditampilkan dalam sinetron. Sepanjang 2 jam itu, sama sekali tidak ada ajaran untuk menjadi ”pencemburu”.

Kecemburuan
Tetapi kecemburuan, yang sehat tentu saja, memang muncul dan menjadi suguhan verbal yang utama dalam Tanda Cinta. Kecemburuan kepada nasib mereka yang berkali-kali dipanggil pengadilan untuk alasan-alasan yang tidak masuk akal bagi mereka. Sang suami digambarkan sedang penasaran pada keadaan negeri yang carut marut, lalu ia bertanya ”masih adakah cinta di antara kita?” pertanyaan itu ia cetak dalam ribuan kertas, lalu ia tempel di mana-mana dan berharap ada masyarakat yang akan memberikan jawabannya. Namun sayang, ia keburu dipanggil persidangan atas perbuatannya itu. Usai ia kena vonis denda, di rumah ia kembali menggali kecemburuan itu. Ia bercerita kepada penonton bermacam pengalaman interogasi dan pegadilan yang pernah ia lalui. Dalam bagian ini, jelas Nano dan Ratna sedang membeberkan kenyataan sesungguhnya. Di era tahun 80-90an, Teater Koma adalah salah satu kelompok seni yang diawasi ketat dan bahkan kerap dilarang pentas.

Permainan kedua dedengkot ini sangat rapi, meski sekali lagi saya bilang tidak istimewa. Namun kerapian ini tidak kemudian kaku, tetapi sangat lembut dan menembus tanda tanya penonton justru ketika ada bagian entah apa namanya, di mana adegan realisme itu berhenti lalu muncul pria-pria berbaju hitam membawa teplok dan empat perempuan cantik menari tanpa iringan musik kecuali suara-suara yang mereka hasilkan sendiri dari mulut atau tepukan di baju dan tangan serta property. Lalu slide menyorot ke backdrop hitam dan menggoreskan kalimat-kalimat puisi. Persoalan mendasar mengenai betapa cinta seringkali bisa diharapkan menjadi juru damai dan juru tenteram dunia itu terasa cair dalam dialog, tetapi menjadi sangat masif tajam di bagian tarian ini.

Adegan akhir lakon ini menampilkan masa tua sepasang suami istri tersebut. Rupanya pertanyaan sang suami itu tak jua mendapat jawaban. Menjelang istrirahat, suami itu mencoba menanyakan kepada istrinya, dan dijawab dengan kalimat sederhana yang entah kepapa terasa menggetarkan bagi saya. “masih, dari dulu sampai kapanpun, aku selalu mencintaimu.” Dan berangsur adegan ditutup dengan tangis bahagia sang suami. “kita seringkali mencari di tempat yang jauh dan melupakan yang terdekat” demikian kata sang suami yang diperankan Nano. Ya, jawaban itu adalah Tanda adanya Cinta. Meski dalam sebuah kalimat sederhana, tetapi jawaban itu toh hanya bersifat penegasan atas seluruh pegabdian istri puluhan tahun. Dan kini giliran kita menanyakan pada diri kita sendiri, masih adakah cinta untuk jati diri manusia negeri ini?

Generasi Koma.
Selain dua dedengkot ini, Tanda Cinta juga menampilkan Rita Matu Mona, Ohan Adiputra, Alex Fatahillah, Budi Ross dan lain-lain termasuk Subarkah (make up) dan Syaiful Anwar (Skenografer) yang termasuk generasi pendiri Koma sejak 33 tahun lalu. Daya tahan kelompok ini sangat memukau. Di usia 33 tahun, generasi pendiri masih bertahan dan tak habis darah kreatif mereka. Inilah yang justru patut dipelajari seniman daerah dibanding bagaimana kerumitan artistik dan tetek bengeknya.

Sayangnya, pertunjukan ini tidak dihadiri oleh jumlah penonton sebagaimana diharapkan. Sekitar 600 tempat duduk hanya terisi separuhnya saja. Ini pasti kerugian bagi tim produksi Teplok, tetapi kita harus terus berharap, semoga masih ada cinta untuk teater dalam jantung Komunitas Teplok. Kerugian ini ibarat salah paham dan pertengkaran kecil dalam hubungan Cinta, itu tak akan membuat kita menjadi enggan menemui.

2 jam sudah, Koma dan Teplok menyajikan TANDA CINTA mereka pada teater, pada kemanusiaan dan pada anugerah kebersamaan. Pukul 10.30 WIB usai menyapa beberapa teman, dengan hati ceria dan doa dalam hati, saya meluncur kembali ke Jogja. Kali ini lebih santai. Saya tidak mengejar waktu. Saya ingin menikmati perjalanan. Tuhan, santunilah mereka yang menyantuni teater Indonesia. Batin saya menggema.

Tidak ada komentar: