iklan

Selasa, 16 April 2013

Pendaftaran REDCAT Acting Course Angkatan ke-2



Membuka BOOKING tempat Kelas angkatan ke-2.
Kelas dimulai bulan Mei 2013(TERBATAS 20 PESERTA)
Jago AKTING Dalam 2 BULAN !
REDCAT™ActingCourse 

Minggu, 14 April 2013

Lestari MERUANG MASA - Jagongan Wagen April 2013


Padepokan Seni Bagong Kusudiharja
Jagongan Wagen
edisi April 2013

LESTARI MERUANG MASSA

28 April 2013 jam 19.30 WIB
Umum dan Gratis

Kamis, 11 April 2013

Jangkar Babu, Sangkat Madu



Teater Garasi dan Tifa Foundation mempersembahkan:


"JANGKAR BABU. SANGKAR MADU."

Sebuah karya inisiatif dari seniman Teater Garasi, B. Verry Handayani, berkolaborasi dengan Andri Nur Latif, Banjar Tri Andaru Cahyo, Ega Kuspriyanto, Elisabeth Lespirita Veani, Erwin Zubiyan, Febrianus Anggit Sudibyo, Febrinawan Prestianto, Gading Narendra Paksi, Irfanuddien Ghozali, Lusia Neti Cahyani, JDM. Meko Mana, Nailil Muna, Nesia Putri Amarasthi, Syamsul Islam, Siti Fauziah, Tita Dian Wulansari.

Sabtu, 06 April 2013

Komedi Aksi TULAH CINTA KUASA



Teater Maraton
Mempersembahkan

TULAH CINTA KUASA
Pementasan Teater Komedi Aksi tentang Seorang Raja Singhasari
Naskah dan Sutradara : Jessica Permatasari

Sabtu, 30 Maret 2013

Wanggi Hoed : Pantomim, Bentuk Theraphy untuk Masyarakat


oleh : Fandy Hutari

Sewaktu kecil, saya pernah menonton pertunjukan teater Septian Dwi Cahyo yang tidak bersuara di layar TVRI. Saya pun pernah menonton film bisu Charlie Chaplin yang mengandalkan gerak-gerik kocak. Lalu, orangtua saya berkata kalau itu adalah pantomim. Umumnya seni pertunjukan teater mengandalkan dialog antarpemain untuk berinteraksi. Tapi tidak dengan pantomim. Pantomim yang dalam Bahasa Latin disebut pantomimus adalah pertunjukan teater yang menggunakan isyarat sebagai dialognya. Isyarat tersebut tadi hadir dalam bentuk mimik wajah dan gerak tubuh. Istilah pantomim sendiri berasal dari Bahasa Yunani yang artinya “serba isyarat”.

Risalah Aristoteles yang terkenal berjudul Poetics, ditulis sekitar 500 tahun SM, juga menyebutkan pantomim. Ini artinya pertunjukan pantomim sudah berumur tua. Beberapa teori menyebutkan pantomim sudah ada lebih dahulu dikenal di Mesir dan India, sebelum ada di Yunani. Teori tersebut didasarkan pada beberapa temuan relief yang ada pada piramida dan candi. Pada abad ke-16 seiring perkembangan commedia dell’arte di Italia, pantomim kembali populer, dan membawa bentuk pantomim seperti yang sekarang kita kenal. Melalui industri film, pantomim dalam semakin dikenal orang. Pada 1927 dikenal dengan era tanpa kata, banyak para aktor yang menguasai seni pantomim, semisal Charlie Chaplin.
Dalam sebuah makalahnya, Nur Iswantara yang mengutip tulisan Pamana Pmd, menyebutkan bahwa pantomim di Indonesia dimulai oleh Sena A.Utoyo dan Didi Petet sejak 1977 di lingkungan IKJ. Sementara itu, di Yogyakarta pantomim muncul sebagai seni pertunjukan juga sekitar 1970-an dengan perintisnya Moortri Poernomo yang mengajarkan gerak-indah, baik di ASDRAFI Yogyakarta maupun di sanggar-sanggar. Prama Pmd dalam tulisannya di Kompas edisi 29 Maret 1987 “Pantomim di Negeri” mengemukakan, pantomim di Indonesia berasal dari tari dan akting dalam seni teater. Di Indonesia sendiri tak banyak seniman pantomim yang setia menggelutinya. Namun, kita bisa menyebut di antara mereka, seperti Moortri Poernomo, Deddy Ratmoyo, Sena A. Utaya, dan tentu saja Jemek Supardi. Menurut Nur Iswantara dalam bukunya Dari Sena Didi Mime Hingga Gabungan Aktor Pantomim Yogyakarta (2007) pantomim baru dimulai di Indonesia sekitar tahun 1970-an, dengan Kota Jakarta dan Yogyakarta sebagai pelopor.

Di Bandung, Wanggi Hoediyatno Boediardjo (Wanggi Hoed) merupakan salah seorang pelaku seni pantomim yang cukup konsisten melakukan “petualangan” seninya. Pada 28 Februari 2012 lalu, tepat di Hari Gizi Nasional, Wanggi pernah melakukan aksi pantomimnya di depan Lapangan Gasibu, seberang Gedung Sate Bandung. Aksi yang bertema “Sehat Milik Siapa?” ini kabarnya membuat panas beberapa pihak yang merasa tersindir. Saya berkesempatan mewawancarai Wanggi yang banyak bercerita soal pantomim dan idealisme dirinya terhadap seni ini.

Senin, 20 Juni 2011

MEMPUBLIKASIKAN TEATER

Interview dengan David Gibs, seorang Public Relation Free Lance yang juga Aktor.
David Gibbs dari DARR Publicity telah menjadi Humas teater di New York selama 2 tahun terakhir. Dialah yang mempublikasikan pementasan “one Women Show”-nya Cirque Jacqueline : Behing Tha Façade of Jacki O, yang telah dimainkan di New York dan seluruh USA selama 2 tahun terakhir dengan respon kritis yang terus mengalir. Dia pernah menangani publikasi untuk teater-teater baru seperti Row Theatres, Rude Mechanical Theatre Company, The Flea Theatre, White Horse Theatre Company, The Costeau Club di The Jean Costeau Rep, Bank Street Theatre, TKO Entertainment, Double Helix Theatre Company, Queens Theatre In The Park, Crosroads Theatre, One Little Goat Theatre Company, The People’s Theatre, Titans Theatre Company, The Corcoran Gallery of Art di Washington, dan one man show paling terkenal  Mercury : The Afterlife an Times of a Rock God, About Freddie Mercury. David juga pejabat publikasi untuk Andrea Reese, Aktor dan pencipta Cirque Jacqueline. Contack : 212-502-0845
David Juga bekerja sebagai aktor, lebih dari 7 tahun ini baik di panggung, film, maupun TV. Dia adalah pemeran pembantu dalam Gasline, yang memenangkan Jury Prize di Sundance Film Festival untuk kategori film Pendek. Dia juga muncul dalam One Life to Live dan berpentas bersama Flea Theatre di 3 pertunjukan yang disutradarai Jim Simpson. David sebagai pemeran utama dalam The Uninvited Guest karya Michael Murphy di The Mint Theatre dan sebagai Paul westenberg dalam Paul Westenberg di Soho Rep di bawah arahan Carl Forsman. Ia bekerja bersama Israel Horovitz dalam The Widow’s Blind date. Sebagai seorang drummer professional, David bekerja bersama The Rembrandts dan beberapa anggota Gun’s N Roses serta Matthew Sweet band


Bagaimana kamu bisa terlibat dalam dunia publikasi dan apa yang kamu suka di situ?
Saya sebenarnya terlibat dalam dunia Public Relation beberapa tahun lalu ketika jadi drummer di sebuah band Rock n Roll dan saya bertugas mengirimkan press Release, memburu peluang wawancara di radio, dan mencari cara agar ada artikel tentang kami yang muncul di Koran dan Majalah. Menangani Public Relation selalu saya nikmati meski sering gagal. Kemudian aku terlibat di dunia Publikasi teater setelah mencoba menangani publikasi one woman show-nya Jackie O. Nah, setelah kesuksesan Jackie O, tiba-tiba banyak orang manawari saya jadi PR untuk proyek mereka.
Pada dasarnya saya suka proses kerja PR. Sangat menyenangkan buat saya. Setiap pertunjukan pasti baru dan menarik. Saya sangat menikmati ketika mengunjungi pertunjukan, menulis di media atau mengadakan jumpa pers, bertemu orang lain, berkolaborasi dengan orang dan menemukan “poin” penting pertunjukan dan banyak hal, membuat klien senang karena membuat mereka muncul di Koran dan majalah, radio atau TV dan internet.


Apa Job deskripsimu dalam jabatan PR?
Pekerjaanku adalah menghasilkan artikel dan review (ulasan) tentang klien dan proyek yang sedang ia kerjakan dan mencari kesempatan untuk memasukkan nama klien di daftar apapun yang memungkinkan. Aku juga akan mengontak radio, TV, dan situs internet.

MEMBANGUN PERTUNJUKAN IMPROVISASI



ANDREW MCMASTERS adalah direktur artistik dan tim perintis (bersama Mike Christensen) yang mendirikan JET CITY IMPROV dan kelompok usahanya, Wing-It Productions. Jet City Improv, yang telah berpentas secara kontinyu di Seatle sejak 1992, dikenal karena adegan-adegan improvisasi, nyanyian, humor-humor cerdas, dan pentas yang sold out. Setelah terkenal di kalangan mahasiswa dan perusahaan-perusahaan local, Jet City sekarang menempati gedungnya sendiri, Historic University Theatre di Distrik University Seatle. Jet City secara terus menerus menampilkan garapan terbaru, termasuk pertunjukan panjang seperti Instant Musical, Lost Folio, Election Show, dan twisted Flicks. Didirikan oleh dua aktor lulusan pendidikan klasik bergelar MFA, 24 orang anggota Jet City Improve berlatih setiap minggu, pentas beberapa kali setiap minggu, dan menghasilkan pemberitaan setiap selesai pentasnya. Andrew mendapat gelar MFA nya di bidang acting dari Universitas Washington dan BA dalam bidang teater dari Universitas Temple. Dia telah tampil di pentas di berbagai tempat seperti  Seattle Repertory Theatre, Seattle Shakespeare Company, Seattle Children's Theatre, bekerja bersama banyak sutradara seperti Mary Zimmerman, Victor Pappas, and Rita Giomi, juga dalam berbagai film indie maupun komersial. Dia juga salah satu anggota AEA/AFTRA, sekaligus anggota pengurus dari Theatre Puget Sound, payung bagi grup-grup teater Seatle.

Interview oleh Rachel Rutherford

Andrew McMasters, kamu berada di posisi di mana banyak aktor mengejarnya. Anda punya pasukan improvisasi sendiri. Punya gedung sendiri. Ini adalah pekerjaan tetapmu. Jet City Improve adalah salah satu teater improvisasi yang sangat sukses di seluruh Seatle.
Menurut saya, saya cuma sedang wawancara di radio. Hahahhahaa… Terima kasih.

Kenapa kamu tertarik di bidang akting?
Aku kenal drama pada saat di SMP, semua drama musical sekolah dicoba di SMP. Pertama kali mereka pentas, aku sangat menikmati. Aku bersiul dan bersorak. Aku bahkan tidak sengaja sama sekali. Seperti kegembiraan yang keluar begitu saja. Yang kemudian menuntunku ikut audisi dan bermain drama musik di SMA.

Kemana karir aktingmu selepas SMA?
Aku memutuskan kuliah di Teknik Biomedikal. Aku tetap sering pentas dan main olahraga. Salah satu kawan pendiri Firma Hukum tempat ibuku bekerja baru saja berhenti lalu memilih bermain tuba di Philadelphia Philharmonic. Ibuku lalu bilang : “Kamu juga bisa saja memilih apa yang kamu ingin kerjakan sekarang, atau itu akan kamu temukan nanti. Apa yang kamu inginkan?”
Segera aku mencari sekolah teater. Aku dapat gelar BA di teater dari Temple University di Philadelphia. Kampusku rangking lima dalam urusan teater se USA. Kedua orangtuaku juga lulusan sana. Setelah kuliah, aku mencoba teater jalanan. Aku mulai bekerja di Atlantic City melakukan walk-around entertainment dengan karakter badut. Jadi aku tinggalkan kesarjanaan dengan sebuah gelar dan segera menjadi aktor yang bekerja.