iklan

Senin, 20 Juni 2011

LIBBY SKALA tentang One Woman Show



Libby Skala telah memproduksi sebuah one-woman show berdasarakan kisah hidupnya bersama neneknya, seorang aktris nominasi Oscar, Lilia Skala. Jika kebanyakan nenek khawatir, Lilia justru sangat mendukung cucunya yang ingin menjadi aktris, karena ia sadar bahwa tak akan lagi menjadi satu-satunya “kambing hitam” dalam keluarga besar mereka. Di sini Libby akan bercerita tentang segala perjuangan dan keberhasilannya, juga beberapa proses yang panjang dan menyulitkan dalam membangun pertunjukan pribadinya.

Bagaimana kamu tahu bahwa kamu telah membuat satu pertunjukan yang bagus?

Aku biasanya bercerita dengan penuh ekspresi memandang ke wajah-wajah penonton. Jika aku bercerita dengan baik, biasanya ini akan “menular” ke wajah penonton. Ekspresi  mereka seperti sedang berada di dunia lain.

Komentar apa yang kamu dapat dari pementasan terbarumu, Libby And Lilia?



Ada yang bilang mereka sudah mengenal nenekkku, ada lagi yang bilang mereka jadi memikirkan tentang nenek mereka di mana mereka tidak punya hubungan seperti itu dan mengandaikan bisa punya hubungan seperti itu. Kadang-kadang ada orang yang tak mau ngobrol setelah pementasan, tetapi biasanya mereka meninggalkan catatan yang mengatakan bahwa mereka terlalu terbawa emosi dan tak sanggup untuk ikut ngobrol-ngobrol setelah pentas.  

Kenapa kamu yakin ada orang lain yang akan menonton pertunjukanmu… mereka yang tidak mengenalmu dan tidak tahu pekerjaanmu dan nenekmu?

Beberpa penonton adalah sesama aktor yang sedang mempersiapkan one-person show mereka sendiri. Jadi mereka datang untuk melihat bagaimana orang lain melakukannya. Itu sering sekali. Apa kamu sadar bahwa semakin banyak aktor yang bikin Solo show? 



Ya. Menurutku ini memang lebih murah biaya produksinya, juga ada profit margin yang lebih besar karena hanya ada satu pemain dan biasanya aktornya adalah juga penulisnya.

Dan juga, menurutku, ini akan membantu orang menciptakan pekerjaan sendiri. Ketika mereka terdesak, lalu menulis naskah one person show yang hanya bisa mereka mainkan sendiri… inikan sebuah kotak pertunjukan yang bisa dibawa ke mana-mana? Ini adalah pekerjaan yang bisa kita pilih daripada menunggu dapat casting di pementasan orang.

Senin, 18 April 2011

Audition Everywhere

MENEMBUS AUDISI AKTING
Oleh M Ahmad Jalidu*


Mendengar kata “Audition” atau “Audisi” akan menyeret kita pada sebuah acara seleksi penjaringan bakat ataupun serangkaian seleksi band untuk sebuah pemanggungan atau acara TV. Itu benar, tapi mestinya kata itu juga merujuk pada proses seleksi aktor yang sementara ini di Indonesia lebih dikenal dengan istilah “casting”. Tidak masalah, tapi sejak paragraph ini, setiap kata “audisi” yang saya tulis, yang saya maksudkan adalah “casting”, serangkain uji kelayakan untuk memilih aktor bagi sebuah proyek film ataupun teater.
Di AS (meski saya hanya tau melalui internet), tampaknya di sana audisi adalah sebuah peristiwa yang sangat akrab terutama bagi para aktor dengan tingkat “kelarisan” menengah ke bawah. Agency-agency tumbuh subur (agency aktor, bukan agency modeling), dan pengumuman dibukanya sebuah audisi biasanya disampaikan ke berbagai agency dan lembaga-lembaga asosiasi aktor. Ratusan lembaga kursus akting pun menempatkan materi tips audisi dalam kurikulumnya.
Lain halnya di Indonesia, utamanya di Jogja, meski teater dan film Indie bisa dikatakan subur dengan sesekali datang pula proyek film nasional berlokasi di Jogja dan menyerap sebagian tenaga aktor dan perfilman Jogja, peristiwa audisi ini masih bisa dikatakan jarang. Kebanyakan film baik indie maupun film komersial lebih banyak menyederhanakan langkah dengan langsung menghubungi komunitas-komunitas berbasis akting seperti agency modeling, kelompok teater dan jaringan aktivitas budaya. Lebih banyak lagi proses audisi dilakukan nyaris tanpa prosedur khusus yaitu dengan melakukan perburuan langsung dan menghubungi person-person yang diincar atau melalui jaringan pertemanan dengan si creator atau penanggung jawab casting.

Sabtu, 28 Agustus 2010

Tari Bedhaya "Harjuna Wijaya" : Tataran Kesempurnaan Manusia

karya Sri Sultan Hamengku Buwana X

Sakral, hening serta magis mendadak menyelimuti Bangsal Kencono, sesaat para pengetuk gamelan perlahan memainkan gending Ladrang Prabu Anom dalam mengiringi sembilan penari putri yang melangkah tak kalah lambannya memasuki sayap Bangsal Kencono. Dalam gemulai para penari mulai merunduk mengambil posisi sembahan, perlambang manusia menghormati Tuhan sebagai Sang Pencipta dan melakukan sembahan jengkeng kepada Sultan sebagai penguasa Keraton.

Gerak merendahkan bahu, dagu ditarik, pergelangan tangan gemulai sambil sesekali menghentak mengibaskan selendang - menciptakan tegangan daya ekspresi dalam tubuh penari menjadi karakteristik Tari Bedhaya. Tarian putri Jawa klasik yang adiluhung, halus, luhur - bercerita tentang legenda, babad ataupun sejarah.

Bagai bidadari, paras sembilan penari hampir serupa. Ayu, anggun dan bersinar - dalam balutan dan Goresan wajah khas mempelai putri pengantin Jawa. Alur komposisi rias paes ageng dimulai pada dahi yang diberi paesan berwarna hitam. lapisan garis prada (emas) mengelilingi mempertegas garis luar paesan. Tak luput Wajikan ditengah dahi, bentukan alis menjangan ranggah, hingga rambut tergulung kembang melati rangkai.

Balutan busana dodot berupa kain bermotif cinde dan kampuh berwarna semen berpadu dengan kilau kalung susun serta plat bahu menambah sentuhan pada lengan bagian atas, sedang pada daun telinga terselip sumping ron dan subang. Seakan rapatnya dodot-an tak membatasi gerak tari selama satu jam tanpa henti, Gerak-gerak lengkung terus mengalir (mbanyu mili) membuat formasi berubah-ubah menjadikan alur cerita yang apik.

Tak melulu gemulai, adegan perang dalam tempo tinggi membuat dua orang penari dengan setengah berlari saling mencoba menghunuskan keris. Perang yang dijadikan simbol dari pergolakan batin manusia dalam menentukan pilihan kebaikan atau keburukan, meredam hawa nafsu, harus rendah hati, jujur dalam ucapan dan tindakan yang diwujudkan melalui sosok Harjuna.

Tari Bedhaya "Harjuna Wijaya" yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana X kali ini menjadi garapannya yang ketiga. Karya Perdana beliau Tahun 1997 berjudul "Arjuna Wiwaha". Di Tahun 2004 bertepatan dengan peringatan Sri Sultan Hamengku Buwana IX sebagai pahlawan nasional terciptalah "Amurwo Bumi" yang menjadi wujud penghormatan beliau kepada ayahnya (Sri Sultan Hamengku Buwana IX). Dibantu R Riya Kusumaningrat (RAy Sri Kadaryati) selaku penata tari senior yang sekaligus mendapat Dhawuh dari Sri Sultan untuk menggarap tari bedaya ini, proses pencarian gerak diawali dengan menerjemahkan sinopsis cerita yang ditulis langsung oleh Sri Sultan.

Tari Bedhaya "Harjuna Wijaya" menceritakan tentang tokoh Harjuna yang menurut anggapan Sri Sultan bukanlah tokoh yang sering gonta-ganti pasangan, melainkan ksatria sejati yang berjuluk lananging jagad wujud nyata manusia yang sudah menuju tataran sempurna yang bertugas "memayu hayuning bawana", ksatria yang waskitha (mengetahui kejadian yang belum terjadi) hingga pantas menjadi teladan bagi para satria dan manusia biasa.

Harjuna adalah sejatining satriya, contoh manusia sempurna yang dalam menjalani kehidupannya dengan mengedepankan tiga hal: Tirta Martini; sumber air kehidupan manusia "banyu penguripan" menjadi inti daya air yang berada di tubuh manusia (sperma). Tirta Kamandanu; Banyu wiji tempat/wadah sperma lan madzi (indung telur) manusia, awal mula sperma dan indung telur bertemu pada saat suami istri melakukan persetubuhan. Terakhir, Tirta Prawita Sari; dengan menyatunya tirta martani dan tirta kamandanu didalam tubuh manusia (istri) akan menumbuhkan kekuatan, cahaya wibawa terpancar. Dengan diawali bahwa manusia harus selalu ingat, tahu dan mengkaji setiap peristiwa (kenyataan) maka manusia akan mendapatkan karomah keghoiban, hingga manusia akan menjadi "minyak wewadosing jagad" (terang bagi dunia).

Bedhaya bila diwujudkan dalam kehidupan manusia dapat diartikan sebagai lambang arah mata angin, arah kedudukan planet-planet dalam kehidupan alam semesta dan lambang sembilan lubang hawa dalam tubuh manusia sebagai kelengkapan hidup atau dalam bahasa Jawa disebut sebagai babadan hawa sanga yaitu; lubang dikedua mata, dua buah lubang hidung , satu mulut, dua buah kuping, satu lubang kemaluan dan satu lubang pelepasan.

Menurut masyarakat Jawa sembilan unsur lubang hawa inilah yang memegang kendali dalam kehidupan manusia dan bisa mengakibatkan berbagai masalah jika tidak dijaga dan dikendalikan dengan baik. Pesan yang tersampaikan bahwa manusia diharapkan mampu berserah diri, tawakal dan selalu melakukan introspeksi diri dengan melakukan perenungan, tapa/samadi dan berdialog dengan Yang Maha Kuasa.

Gerak Tari Bedhaya Harjuna Wijaya yang sarat muatan nilai simbolik dan filosofi kawruh joget Mataram, menarik benang merah akan keterkaitan pada kehidupan didunia dan lebih berorientasi kepada pemahaman diri sendiri, perenungan diri antara manusia sebagai pribadi individual dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Hidup harus dilihat sebagai perjuangan bukan hanya dijalani tanpa arti.

Tari Bedhaya memandu kita dalam menentukan pilihan kebaikan atau keburukan, meredam hawa nafsu, harus rendah hati, jujur dalam ucapan dan tindakan. Menuju tataran manusia yang sempurna meski tak sesempurna tokoh Harjuna.

Teks:www.indonesiaculture.net/ Sir Kuncoro

Senin, 23 Agustus 2010

Cerita Papermoon dari Singapura



Papermoon Puppet Theatre, kelompok teater boneka Jogja ini baru saja pulang dari liburan di Singapore. Liburan?? Haha.. tentu saja bukan. Mereka diundang untuk mengikuti Yfest 2010 yang diselenggarakan oleh Esplanade Theatre on The Bay, Singapura. Dalam Yfest 2010 ini Esplanade Theatre mengundang Papermoon untuk menjalankan sebuah proyek residensi.

Papermoon berangkat dengan tim terdiri dari Ria (Direktur Artistik), Iwan (Penata Artistik), Octo dan Anton Grewo (Pewujud Boneka), Gea (Perancang Kostum) dan Yennu (Penata Musik). Selama hampir satu bulan Pappermoon tinggal di singapura dan memfasilitasi workshop teater boneka untuk remaja Singapura yang dijadwalkan 29 Juli-12 Agustus 2010.



Adalah 25 mahasiswa Jurusan Interactive Media Design dari Institute of Technical Education Tampines, Singapura yang menjadi peserta workshop selama sekitar 2,5 pekan ini. Di antara banyak hal yang unik dan menantang adalah bahwa peserta bukan berasal dari komunitas teater atau seni lainnya, bahkan hampir semua mengaku belum pernah terlibat dalam pementasan apapun. Justru karenanya, antusiasme peserta dan fasilitator (Papermoon) menjadi sangat “hangat”. Workshop berakhir dengan 3 hari pementasan 13-15 Agustus di komplek Esplanade Bay Theatre.



Cerita yang dirangkai mahasiswa pendidikan ini juga unik. Mereka menyusun cerita tentang pasangan kaya raya yang memiliki supermall di seluruh penjuru dunia. Mereka menjual apa saja, bahkan presiden, planet dan pesawat luar angkasa pun di jual. Setiap hari semua dagangannya laku. Tetapi, tanpa disadari barang-barang dagangan itu pun menghasilkan sampah sisa-sisa kemasan dan sebagainya. Jadilah tumpukan sampah itu sarang kecoa. Akhirnya mereka disibukkan oleh usaha melenyapkan kecoa-kecoa itu. Sampai kemudian, gerombolan keluarga cacing muncul memakan semua barang termasuk tumpukan uang-uang mereka.

Pertunjukan diakhiri dengan sajian tari kecoa. Mereka hendak menghibur sang pasangan kaya ini sekaligus menyadarkan bahwa uang bukanlah segalanya, sementara teman-teman yang hebat adalah harta yang lebih tak ternilai.

Workshop ini telah memberikan "dunia" baru bagi mahasiswa IDM ITE Tampines dan tentu saja Papermoon. Semoga petualangan mereka tak pernah habis. Sukses untuk Papermoon dan mahasiswa IDM ITE Tampines, sukses buat teater boneka dan seni pertunjukan dunia.



sumber : http://papermoon-puppet.blogspot.com

Minggu, 25 Juli 2010

Daftar Pemenang Festival Titer Jogja 2010

Festival Titer Jogja 2010 telah selesai digelar. 5 kelompok ambil bagian dalam perhelatan yang diprakarsai Taman Budaya Yogyakarta dan Yayasan Umar Kayam ini. sejak 15 Juli sampai 22 Juli 2010, kelima kelompok ini tampil bergiliran dengan mengambil tempat sesuai dengan konsep dan manajemen mereka sendiri.

15 Juli, Teater Gajah Mada mementaslan LENG di Gelanggang Mahasiswa UGM
17 Juli, Teater Kulon Progo mementaskan Umang-umang di sebuah desa di wilayah Kulon Progo
18 Juli, Teater Amarta mementaskan Bayang-bayang Bambu di Kersan Art Space
21 Juli, Komumitas SLEnK mementaskan LENG di Bale Budaya Samirono
22 Juli, Teater Payung mementaskan LENG di pasar Imogiri lama.

Berikut adalah hasil dari penilaian dewan Juri

1. Penata Artistik Potensial diraih oleh Teater Kulon Progo
2. Aktor Potensial diraih oleh Yuniawang Setyadi, Teater Gajah Mada
3. Aktris Potensial diraih oleh Candra Maulida, Komunitas SLEnK
4. Sutradara Potensial diraih oleh Daru Murdopo, Komunitas SLEnK
5. Manajemen Produksi Potensial diraih oleh Agus, Teater Payung
6. Penyaji Potensial diraih oleh Komunitas SLEnK

penghargaan tersebut dimaksudkan untuk semakin merangsang semangat kreativitas di kalangan kelompok-kelompok peserta FTJ dan ini diharapkan menular pada kelompok lain yang tidak berpartisipasi dalam FTJ.

rangkaian FTJ masih menyisakan satu agenda yaitu Artist Talk. acara ini memberi ruang pada masing-masing sutradara peserta FTJ untuk mendiskusikan proses kreatif mereka satu sama lain. diharapkan forum ini meningkatan budaya diskusi dan saling asah antar seniman muda di Yogyakarta.

Kamis, 22 Juli 2010

[minggiiiiir sanaaaaa.....!!! ] LENG...

* Catatan dari menonton pertunjukan LENG oleh Komunitas SLEnK.
** oleh Alfia Inayati


"Hallo.....eeeh, ke Mall yuk cinnnnn.....diskon bo'....150% ."

Sms, telepon atau mungkin ajakan langsung dengan kalimat kurang lebih seperti di atas adalah ajakan yang mendominasi benak kaum urban abad millenia. Tak sebanding dengan ajakan-ajakan ke pentas budaya macam teater, gamelan, wayang, atau bahkan sekedar main-main ngeceng ke perpustakaan [apa yang bisa dilihat di perpus....???]

LENG, sebentuk kata yang berkonotasi kasar tersebut, adalah judul sebuah lakon sandiwara bahasa Jawa yang dipentaskan oleh Komunitas SLENK [Suka Lelangen Edining Kabudayan]. Bertempat di Bale Budaya Samirono, naskah LENG yang ditulis oleh Bambang Widoyo SP, disutradarai oleh Daru Murdopo dengan ilustrasi musik oleh Sugito HS benar-benar mengemas hiburan rakyat serakyat-rakyatnya. Pementasan tergelar terbuka dengan menyisakan sedikit ruang untuk lesehan [yang paling dekat dengan pemain], dan barisan kursi-kursi plastik di bagian halaman bale.Dengan sumbangan sukarela, penonton bebas datang dan menonton dari aneka sudut dengan aneka pose dan kostum,sangat berbeda dibandingka pementasan di ruangan berpendingin dengan kursi-kursi empuk yang berharga mulai puluhan hingga ratusan ribu per-tiket masuknya dan memberikan batasan kasta antara tiket festival dan VIP [bahkan VVIP].

Berbicara mengenai hiburan rakyat,ada hal yang tidak boleh kita sepelekan yaitu misi yang dibawa oleh pementasan tersebut. Sebagaimana nasib dirinya [hiburan rakyat] yang sudah terpinggirkan oleh kapitalisasi ruang publik, LENG mengambil setting tema polah penguasa yang dengan alasan untuk pembangunan perekonomian , ujung-ujungnya hanya mengorbankan rakyat untuk kepentingan pribadi....[tapi saya tidak mau berpanjang kata membahas pemerintah....karena sepertinya PERCUMA..]

Meski begitu, dibalik kegetiran tema yang diusung, selalu ada hal yang menarik dari pementasan tersebut. Munculnya tokoh Bedor, seorang asisten dari tokoh juragan di lakon tersebut, membangkitkan kenangan masa kecil saya tentang kesenian Jula-juli ala Suroboyoan. Semasa SD, melaui televisi hitam putih dengan menggunakan accu sebagai sumber daya listriknya, saya cukup setia dengan siaran komedi jula-juli nya Cak Kholik dari TVRI Stasiun Surabaya.

Dari segi ilustrasi, saya tidak berani berkomentar mengenai gamelan, mengingat minimnya pengetahuan saya tentang gamelan. Di bagian lain, ilusrator menggunakan perangkat pendukung selain gamelan yaitu beberapa mesin ketik manual yang dibunyikan oleh figuran-figuran untuk mengambarkan suasana kota yang sibuk dengan aneka aktivitas kantoran [sambil menunggu guliran pentas, para figuran tersebut sibuk senam jari di atas huruf-huruf mesin tik tersebut].Saya jadi berfikir, di era serba komputer ini, maka mesin ketik menjadi benda yang bernilai seni tinggi. Kemudian ada mesin bor elektrik yang juga diputar terus menerus pada beberapa adegan untuk menambah efek suasana lingkungan yang sibuk dengan aneka proyek bangun membangun.

Barangkali tidak semua dari seluruh penonton yang malam itu, Rabu 21 Juli 2010 memadati halaman Bale Budaya Samirono mengerti keseluruhan isi pementasan sandiwara bahasa Jawa tersebut. Barangkali pula, sepulang dari melihat pementasan tersebut mereka lupa, bahwa bisa jadi esok hari mereka mungkin saja mengalami kejadian yang sama dengan lakon tersebut di dunia nyata, yaitu menjadi penguasa yang sewenang-wenang atau menjadi korban kesewenangan penguasa. Biar sajalah, setidaknya malam itu, para penonton terhibur untuk sejenak melupakan beban hidup yang semakin berat.

Di sini terlihat bahwa Komunitas SLENK benar-benar konsisten dalam melestarikan budaya.Begitulah, geliat kesenian dari para seniman yang tak kunjung padam meski untuk mempersiapkan semua itu,tenaga dan fikiran terkuras habis tanpa jaminan ada imbal balik yang pantas dari kerja keras tersebut.

Saya teringat beberapa tahun silam, bersama tim MGMP Kesenian,menggelar konser musik kolaborasi siswa SMP dengan SMK Musik Yogakarta di pendopo Kampus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Saya bilang, konser tergelar di pendopo akibat tak mampu membayar gedung pertunjukan berlabel budaya. Sehingga maaf bila saya bilang gedung itu kini melacurkan dirinya. Dari pintu gerbangnya saja seolah sudah terpasang spanduk bertuliskan " hai...minggir kamu yang nggak punya duit nggak usah mentas di sini". Bisa jadi Komunitas SLENK mengalami hal serupa...ketika baru saja parkir di halaman luar sudah mendapat teriakan..."hoiii..minggiiiiir sanaaaaa.....!!! LENK."

Rabu, 14 Juli 2010

TANDA-TANDA dan CINTA TEATER KOMA

Oleh M Ahmad Jalidu

Sebuah halaman parkir yang luas telah lengang. Jam 20.02, saat saya memeriksa jam usai melepas helm dan menaruhnya di atas jok motor. Segera saya bergegas ke front desk di depan pintu Gedung Tribakti Magelang. Malam ini, 13 Juli dan malam kemarin Komunitas Teplok yang dipimpin Yefta Tandiyo, mengundang Teater Koma Jakarta untuk mementaskan lakon Tanda Cinta. Saya terlambat 15 menit kata petugas di tempat pelayanan tiket.

Tanda Cinta ini dimainkan oleh dua tokoh penting dalam perkembangan teater Indonesia 30 tahun terakhir. Tak lain adalah pasangan suami istri Nano Riantiarno dan Ratna Majid Riantiarno, juragannya Teater Koma. Setidaknya hal inilah yang mendorong saya memacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi dari Jogja ke Magelang.

Secara umum, saya kagum dan bertepuk tangan dengan ikhlas ketika para penari ilustrasi membungkuk menghadap penonton. Tetapi kesan saya memang tidak begitu istimewa. Barangkali saya memang berharap menonton kemegahan drama musikal yang telah mengibarkan nama Koma. Tetapi tidak saya temukan dalam Tanda Cinta.

Sepasang suami istri dengan adegan rumah dimana pada usia paruh baya seringpula muncul rasa cemburu. Si istri menemukan amplop rahasia di lemari pakaian yang isinya foto-foto gadis kecengan suaminya di masa lalu. Demikian pula suami, menemukan tas berisi foto-foto pria di masa lalu sang istri. Hal ini kemudian menjadi kelucuan yang cukup menyentil ketika masing-masing menanyakan dan memprotes kenapa masih menyimpan barang-barang itu. Dan sayangnya, cukup tidak menarik ketika jawaban keduanya hampir sama, yaitu sudah lama merasa kehilangan barang itu dan sudah melupakannya. Tetapi hal positifnya adalah persoalan ini tidak memancing pertengkaran sebagaimana seringkali ditampilkan dalam sinetron. Sepanjang 2 jam itu, sama sekali tidak ada ajaran untuk menjadi ”pencemburu”.

Kecemburuan
Tetapi kecemburuan, yang sehat tentu saja, memang muncul dan menjadi suguhan verbal yang utama dalam Tanda Cinta. Kecemburuan kepada nasib mereka yang berkali-kali dipanggil pengadilan untuk alasan-alasan yang tidak masuk akal bagi mereka. Sang suami digambarkan sedang penasaran pada keadaan negeri yang carut marut, lalu ia bertanya ”masih adakah cinta di antara kita?” pertanyaan itu ia cetak dalam ribuan kertas, lalu ia tempel di mana-mana dan berharap ada masyarakat yang akan memberikan jawabannya. Namun sayang, ia keburu dipanggil persidangan atas perbuatannya itu. Usai ia kena vonis denda, di rumah ia kembali menggali kecemburuan itu. Ia bercerita kepada penonton bermacam pengalaman interogasi dan pegadilan yang pernah ia lalui. Dalam bagian ini, jelas Nano dan Ratna sedang membeberkan kenyataan sesungguhnya. Di era tahun 80-90an, Teater Koma adalah salah satu kelompok seni yang diawasi ketat dan bahkan kerap dilarang pentas.

Permainan kedua dedengkot ini sangat rapi, meski sekali lagi saya bilang tidak istimewa. Namun kerapian ini tidak kemudian kaku, tetapi sangat lembut dan menembus tanda tanya penonton justru ketika ada bagian entah apa namanya, di mana adegan realisme itu berhenti lalu muncul pria-pria berbaju hitam membawa teplok dan empat perempuan cantik menari tanpa iringan musik kecuali suara-suara yang mereka hasilkan sendiri dari mulut atau tepukan di baju dan tangan serta property. Lalu slide menyorot ke backdrop hitam dan menggoreskan kalimat-kalimat puisi. Persoalan mendasar mengenai betapa cinta seringkali bisa diharapkan menjadi juru damai dan juru tenteram dunia itu terasa cair dalam dialog, tetapi menjadi sangat masif tajam di bagian tarian ini.

Adegan akhir lakon ini menampilkan masa tua sepasang suami istri tersebut. Rupanya pertanyaan sang suami itu tak jua mendapat jawaban. Menjelang istrirahat, suami itu mencoba menanyakan kepada istrinya, dan dijawab dengan kalimat sederhana yang entah kepapa terasa menggetarkan bagi saya. “masih, dari dulu sampai kapanpun, aku selalu mencintaimu.” Dan berangsur adegan ditutup dengan tangis bahagia sang suami. “kita seringkali mencari di tempat yang jauh dan melupakan yang terdekat” demikian kata sang suami yang diperankan Nano. Ya, jawaban itu adalah Tanda adanya Cinta. Meski dalam sebuah kalimat sederhana, tetapi jawaban itu toh hanya bersifat penegasan atas seluruh pegabdian istri puluhan tahun. Dan kini giliran kita menanyakan pada diri kita sendiri, masih adakah cinta untuk jati diri manusia negeri ini?

Generasi Koma.
Selain dua dedengkot ini, Tanda Cinta juga menampilkan Rita Matu Mona, Ohan Adiputra, Alex Fatahillah, Budi Ross dan lain-lain termasuk Subarkah (make up) dan Syaiful Anwar (Skenografer) yang termasuk generasi pendiri Koma sejak 33 tahun lalu. Daya tahan kelompok ini sangat memukau. Di usia 33 tahun, generasi pendiri masih bertahan dan tak habis darah kreatif mereka. Inilah yang justru patut dipelajari seniman daerah dibanding bagaimana kerumitan artistik dan tetek bengeknya.

Sayangnya, pertunjukan ini tidak dihadiri oleh jumlah penonton sebagaimana diharapkan. Sekitar 600 tempat duduk hanya terisi separuhnya saja. Ini pasti kerugian bagi tim produksi Teplok, tetapi kita harus terus berharap, semoga masih ada cinta untuk teater dalam jantung Komunitas Teplok. Kerugian ini ibarat salah paham dan pertengkaran kecil dalam hubungan Cinta, itu tak akan membuat kita menjadi enggan menemui.

2 jam sudah, Koma dan Teplok menyajikan TANDA CINTA mereka pada teater, pada kemanusiaan dan pada anugerah kebersamaan. Pukul 10.30 WIB usai menyapa beberapa teman, dengan hati ceria dan doa dalam hati, saya meluncur kembali ke Jogja. Kali ini lebih santai. Saya tidak mengejar waktu. Saya ingin menikmati perjalanan. Tuhan, santunilah mereka yang menyantuni teater Indonesia. Batin saya menggema.